KONSEP AIR DALAM AL-QURAN
Isabela
Gobel
Abstrak
:
Air merupakan
kebutuhan pokok dan esensial bagi manusia dan makhluk hidup di muka bumi ini,
oleh karena itu keberadaannya merupakan anugerah teragung yang dilimpahkan
Allah Swt kepada seluruh makhluknya, sebab dengan air Allah menghidupkan segala
makhluk di atas bumi ini, menyebarkan rejeki melalui pemanfaatannya sebagai zat
yang menumbuhkan tanaman, sebagai minuman bagi binatang ternak dan bahkan
sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui. Disisi lain air juga dapat
mendatangkan bahaya dan bencana besar bagi ekosistem makhluk hidup di muka bumi
ini seperti datangnya banjir, air pasang di tepi laut dan longsor. Namun
datangnya bencana tersebut apakah disebabkan oleh kesalahan alam ataukah
manusia yang salah mengelola alam ini. Maka dari pada itu artikel ini
membawakan ayat Al-Quran hadist dimana
akan pentingnya air dan harus dijaga kebersihannya dari pencemaran.
Kata Kunci : Air, Al-Quran
Kata Kunci : Air, Al-Quran
A.
PENDAHULUAN
Air mempunyai
banyak nama dalam bahasa, antara lain; bahasa Yunani “nero”, dalam
bahasa Yunani kuno “hydor”, dalam bahasa Inggri “water” atau “liquid”.
Bahasa Arab ماء
“ma”
dalam bentuk mufrod dan مِياهٌ “miyaahun” bentuk
jamak. Sedangkan dalam bahasa
Indonesia “air” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: a) cairan jernih,
tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang terdapat dan di perlukan
dalam kehidupan manusia, hewan, tumbuhan yang secara kimiawi mengandung unsur
hydrogen dan oksigen; b) benda
cair yang biasa terdapat di sumur, sungai, danau, dan yang mendidih pada suhu
seratus derajat celcius (100C). air dalam bentuk cair hanya dijumpai di bumi. Sedangkan
di luar bumi berbentuk gas atau es. Berdasarkan pengertian di atas, dapat
dipahami bahwa air merupakan salah unsur yang diciptakan oleh Allah sebagai
bagian dari unsur kehidupan yang ada di alam semesta. Karena air juga merupakan
unsur utama dalam penciptaan langit dan bumi, oleh karena itu air merupakan
mukzizat yang telah dianugrahkan bagi makhluk hidupn-Nya di alam.
PEMBAHASAN :
A.
Ayat dan Terjemahan
1.
Ayat pokok
الّذى
لكُمُ الْأرْ ض مهْدًا وسلك لكُمْ فِيها سُبُلًا وأنزل مِن السّما ءِ ما ءً فأ خْر
جْنا بِهِ ازْ و جاً مّن نّبا تِ شتّى
Terjemahanya
:
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah
menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air
hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari
tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.
(Q.S. Thaha: 53)
2.
Ayat pendukung
الّذِ
جعل لكُمُ الأرْ ض فِراشًا و السّما ء بِنا ء و أنزل مِن السّما ء ماء فأخْرج بِهِ
مِن الثّمرا تِ رِزْقًا لكُمْ فلا تجْعلوا ْالِلّهِ أندا دًا و أنتُمْ تعْلمُون
Terjemahan :
Dialah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan segala
buah-buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
(QS.Al-Baqarah
[2]: 22)
B.
Analisis mufrodats
|
Makna I’rab
اعراب
|
Makna lughawi
معن الغوية
|
Terjemahan
للترجمة
|
Kosa kata
المفردات
|
|
محذوف
تقديره هو
|
خبر لمبتدأ
|
Yang
|
الّذى
|
|
فاعله
هو
|
فعل
ماض
|
Dia telah janjikan
|
جعل
|
|
مجرور
|
جر
|
Bagi kalian
|
لكم
|
|
منصوب
با لفتحة
|
مفعول
به اول
|
Bumi
|
الأرض
|
|
منصوب
با لفتحة
|
مفعول
ثان
|
Terhampar
|
مهدا
|
|
جملة
الصلة
|
جملة
معتف
|
Dan Dia menjadikan jalan
|
وسلك
|
|
مجرور
|
جر
|
Bagi kalian
|
لكم
|
|
متعلق
بالفعل
|
جر
مجرور
|
Di dalamnya (di bumi)
|
فيها
|
|
منصوب
الفتحة
|
مفعول
به
|
Beberapa jalan
|
سبلا
|
|
جملة
الصلة
|
جملة
معطفة
|
Dan Dia telah menurunkan
|
وأنزل
|
|
|
حرف
جر
|
Dari
|
من
|
|
مجرور
ب الكصرة
|
اسم
مجرور
|
Langit
|
السّمآء
|
|
منصوب.الفتحة
|
مفعول
به
|
Air (hujan)
|
مآء
|
|
منصوب.الفتحة
|
فعل
ماض
|
Maka Kami keluarkan
|
فأخرجنا
|
|
مجرور
|
جر
|
Dengannya
|
به
~
|
|
منصوب
با لفتحة
|
مفعول
به
|
Jodoh/berjenis-jenis
|
أزوِاجا
|
|
مبني
على السكون
|
حرف
جر
|
Dari
|
مّن
|
|
جر
و المجرور
|
اسم
مجرور
|
Tumbuh-tumbuhan
|
نّبات
|
|
منصوب
با لفتحة
|
صفة
ثانية
|
Bermacam-macam
|
شتّى
|
Analisis
kebahasaanya :
a)
Tafsir jalalalyn (QS. Thaahaa [20]: 53)
Dia
(yang menjadikan bagi kalian) di antara sekian banyak makhluuk-Nya (bumi
sebagai hamparan) tempat berpijak (dan dia memudahkan) mempermudah (bagi kalian
dibumi itu jalan-jalan) tempat-tempat untuk berjalan (dan dia menurunkan dari
langit air hujan) yakni merupakan hujan.Allah berfirman menggambarkan apa yang
telah disebutkan-Nya itu sebagai nikmat dari-Nya, kepada Nabi Musa dan dianggap
sebagai khitbah untuk penduduk mekah. (maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu
berjenis-jenis) bermacam-macam (tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam). Lafal
Syatta ini menjadi kata sifat daripada lafal azwaajan,maksudnya yang
berbeda-beda warna dan rasa serta yang lain-lainnya. Lafal syattaa ini adalah
bentuk jamak dari lafal syatitun,wazannya sama dengan lafal mardhaa sebagai
jamak dari lafal mariidhun. Ia berasal dari kata kerja syatta artinya tafarraqa
atau berbeda-beda.
b)
Tafsir Quraish Shihab
Dialah
Tuhan yang menganugerahkan nikmmat kehidupan dan pemeliharaan kepada
hamba-hamba-Nya. Dengan kekuasaan-Nya, Dia telah menjadikan bumi sebagai
hamparan untukmu, membuka jalan-jalan untuk kamu lalui dan menurunkan hujan di
atas bumi sehingga terciptalah sungai-sungai. Dengan air itu Allah menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda warna,rasa dan manfaatnya. Ada yang berwarna
putih dan hitam,adapula yang rasanya manis dan pahit
C.
Hadits yang terkait
Dari
pengetian di atas bahwa air merupakan sumber kehidupan bagi alam semesta yang
di turunkan oleh Allah SWT untuk mahluknya sebagai suatu keperluan baik itu
bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Kita sebagai mahluk yang berakal mempunyai
kewajiban untuk menjaga dan memlihara sumbernya baik itu dari sumur ataupun
sungai, danau, laut, dll. Tapi dalam
realitas kehidupan kita menyaksikan bahwa kawasan-kawasan tertentu seperti
kawasan terminal, kawasan stiun, kerap kali tidak bersih dari kotoran, padahal
kebersihan itu adalah bagian dari iman dan memiliki pengaruh yang signifikan
dengan perilaku manusia.
Dalam
sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memperingatkan manusia untuk tidak
melakukan kerusakan pada lingkungan air dengan cara tidak melakukan pembuangan
kotoran pada kawasan tertentu.
حدَّ
ثنا جسنٌ حدَّ ثنا ابْنُ لهِيعة حدَّ ثنا ابُو الزُّ بيْرِ عنْ جا بِرٍ قال ز جر
رسُولُاللهِ صلّى اللهُ عليْهِ و سلّم أنْ يُبال فِي الْما ءِ الرّاكِدِ (رواه
أحمد).
“Telah menceritakan
kepada kami Hasan telah menceritakan kepada Ibnu Lahi’ah telah menceritakan
kepada kami Abu Az-Zubair dari Jabir berkata ; Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam melarang kencing di air yang menggenang.”
(HR. Ahmad).
Cara
islam sangatlah mudah dipahami dan dilaksanakan yaitu dengan cara melarang orang
yang sedang junub mandi du air yang tenang. Maksdunya, jik orang junub mandi di
air yang tenang maka airnua tidak akan mengalir, sehingga orang lain juga akan
terkena dampak akibat dari sisa-sisa junub tersebut. Cara lain yang dilakukan
adalah dengan melarang kencing di air yang tenang dan menggunakannya untuk
mandi. Apabila seseorang kencing di air
yang tidal mengalir sebenarnya bukan hanya orang tersebut yang akan
terkena dampaknya, tetapi juga orang lain yang akan merasakannya.
D.
Pendapat Ulama / Ahli
a)
Tafsir ibnu katsir
Oleh
Ismail bin Uar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:
Ayat
ini merupakan kelengkapan dari perkataan Musa dalam mengambarkan sifat Tuhannya
saat Fir’aun menanyakan kepadanya tentang Tuhannya.
Musa
berkata :
Yang
telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian
memberinya petunjuk. (QS. Thaahaa:50), kemudian Musa mendapat pertanyaan dari
Fir’aun. Maka Musa menjawab lagi: yang telah menjadikan bagi kalian bumi
sebagai hamparan.
Menurut
qiraat sebagian ulama, disebutkan mahdan (bukan mihadan) yang artinya tempat
menetap bagi kalian, kalian dapat berdiri, tidur, dan berpergian di permukaanya
Dan yang telah menjadikan bagi kalian di bumi itu jalan-jalan.
Yakni
Dia yang menjadikan bagi bagi kalian jalan-jalan agar kalian dapat berjalan di
segala penjurunya. Sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain
melalui Firman-Nya :
Dan
telah kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas agat mereka
mendapat pentujuk (QS. Al-Anbiya [21]:31).
Dan menurunkan dari langi air hujan.
Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari
tumbu-tumbuhan yang bermacam-macam.
Yaitu berbagai macam tetumbuhan berupa tanam-tanaman dan
buah-buahan, ada yang rasanya masam, ada yang manis, dan ada yang pahit, serta
berbagai jenis lainnya dari hasil tanam-tanaman dan buah-buahan.
b)
Tafsir al-Muyassar
Oleh
tim mujamma’Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr.Shalih bin Muhammad Alu
asy-Syaikh :
Dia-lah
yang telah menjadikan bumi bagi kalian yang mudah untuk diambil manfaatnya,
mengadakan bagi kalian banyak jalan di sana, dan menurunkan hujan dari langit
dengan air hujan itu kami tumbuhkan aneka macam tumbuhan.
E.
Kandungan makna
Kata
air dalam Al-Quran disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal) yaitu (ماء)Ma’ dan tidak
disebutkan dalam bentuk jamak (أمْواه) amwah atau (مِياه) miyah. Dan
terulang sebanyak 63 kali dalam 41 surah. Yaitu; al-Baqarah;22, 74, 164.,
an-Nisa’; 43., al-Ma’idah;6., alAn’am: 99., al-A’raf: 50, 57., Al-Anfal: 11.,
Yunus: 24., Hud: 7, 43, 44., ar-Ra’d: 4, 14, 17., Ibrahim 16, 32., al-Hijr: 22,
an-Nahl: 10, 65., al-Kahfi: 29, 41, 45., Taha: 53., al-Anbiya’: 30, al-Haj: 5,
63., al-Mu’minun: 18., an-Nur: 45., al-Furqan: 48, 54., an-Naml: 60., al-Qasas:
23., al-Ankabut: 63, ar-Rum: 24., Luqman: 10., as-Sajadah: 8, 27., Fatir: 27.,
az-Zumar: 21., Fussilat: 39., az-Zukhruf: 11., Muhammad: 15., Qaf: 9.,
al-Qamar: 11, 12, 28., al-Waqi’ah: 31, 68., al-Muluk: 30., al-Haqqah: 11.,
al-Jin: 16., al-Mursalat: 20, 27., an-Naba’:14., ‘Abasa: 25., at-Tariq: 6.,
Hud: 44., an-Nazi’at: 31.
Kata Ma’ yang ada di dalam Al-Quran tidak seluruhnya dimaksudkan
air yang terdiri atas unsur oksigen dan unsur-unsur hidrogen. Makna kata ma’
dalam al-Quran mencakup:
1.
Terkait
dengan proses penciptaan alam semesta atau sebagai salah satu kondisi
terwujudnya alam semesta.
2.
Informasi
tentang Penciptaan manusia, hal ini seperti yang dijelaskan pada beberapa surat
dalam al-Qur’an: al-Furqan: 54, asSajadah: 8, al-Mursalat: 20, dan ath-Tariq:
6, ayat-ayat ini menjelaskan tentang penciptaan manusia. Menurut ayat ini,
manusia diciptakan dari ma’, mai’n mahin, dan mai’n dafiq. Karena itu, kata ma’
di sini lebih tepat dairtikan sebagai mani atau sperma.
3.
Air
yang disediakan untuk penghuni surga dan neraka, yaitu disebutkan dengan kata
ma’ yang di dalam surat Ibrahim: 16, dan surat al-Kahfi: 29, menunjukkan air
yang disediakan untuk penghuni neraka. Sedangkan kata ma’ yang ada di dalam
surat Muhammad; 15, dan surat alWaqi’ah: 31 menginformasikan tentang ma’ untuk
penduduk surga. Karena itu, kata ma’ yang ada di dalam ayat-ayat dalam kelompok
tiga ini tidak tepat dipahami sebagai air yang ditemukan di dalam kehidupan
sekarang ini, tetapi lebih tepat dairtikan dengan air atau zat cair yang sesuai
pula dengan alamnya, yakni alam akhirat yang tentu saja sifat dan bentuknya
tidak lagi sama dengan yang ada di dunia.
F.
Pesan-pesan pendidikan
Dapat
dipahami bahwa air menjadi tiang dan pokok bagi kehidupan, air adalah ibu bagi
semua fenomena alam, betapa Allah menisbatkan air untuk segala bentuk
kehidupdan dan keberadaan, artinya tanpa air kehidupan tak akan ada. Pada abad
20 dunia biologi menemukan 80% penyusunan sel-sel makhluk hidup, manusia,
hewan, tumbuhan dan mikro organisme adalah air, kehidupan di dunia ini pun baru
terbentuk setelah adanya air. Boleh jadi makhluk hidup tidak memerlukan udara
atau oksigen akan tetapi tidak ada satupun makhluk hidup yang mampu hidup tanpa
adanya air.
Adapun
nilai-nilai pendidikan yang dapat di ambil dari materi ini yaitu:
a.
kita harus
bersyukur atas kuasa Allah yang telah menciptakan air, karena dengan adanya air
maka dapat mempunyai perhiasan dan makanan dalam kehidupan, sebagaimana
dijelaskan pada surat An-Nahl ayat 14 yang terjemahannya “Dan Dialah,
Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya
daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah ayat ini
menjelaskan bahwa kita dapat merenung untuk mensyukuri nikmat Allah telah
menciptakan air atas kekuasaa, sehingga bahtera dapat berlayar dalam air dengan
membawa barang-barang dan bahan makanan, kemudian bahtera tersebut tidak
tenggelam, sedangkan air yang dilaluinya semakin lunak. Allah menundukkan itu
agar kamu memanfaatkannya dan kamu bersungguh-sungguh mencari rezeki, maka
inilah sebagian dari pada karunianya dan agar kamu terus menerus mensyukurinya
atas nikmatnya yang telah diberi kapeda kamu.
b.
Dengan adanya
air mengajak kita untuk berfikir dalam pengembangan potensi kehidupan bahwa
dengan adanya air dapat menyuburkan tanah,menghasilkan buah-buahan sebagaimana
dijelaskan pada surah Ar-ra’ad: 3 yang terjemahannya “ dan dialah Tuhan yang
membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan
menjadikan padanya semua buah-buahan berpasangan, Allah menutupkan malam pada
siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkkan”
Ayat ini menjelaskan tentang terbentuk air yang sangat bersih dari
mata air yang sangat bersih dari mata air yang semuanya berhimpun kedalam
sungai dengan mengalir dalam jarak yang sangat jauh. Adapun bentuk interaksi
yang baik dengan air yang terdapat dalam ayat ini yaitu menjadi pedoman bagi
kita untuk berfikir bagaimana kita dapat menjaga air dengan baik tanpa
terkontaminasi dengan limbah bahan kimia buatan yang dapat merusakkan ekosistem
air dan diri air tersebut.
Kesimpulan:
Islam dalam Alquran terhadap
interaksi manusia dengan air yaitu terdapat pada perintah untuk menjaga kondisi
seluruh muka bumi dengan baik, jangan membuat kerusakan padanya, untuk merasa
syukur dengan adanya air menjadi sumber rezeki dan makanan bagi kita dan supaya
dapat berfikir dengan adanya air akan menghasilkan sumber ekonomi dalam
kehidupan.
Selain demikian dijelaskan juga
bahwa dijadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Bentuk interaksi
yang baik dengan air dapat juga dipahami yaitu rasa mensyukuri terhadap
manfaatnya air dalam kehidupan sehari-hari, maka perlu dijaga dengan baik.
Kemudia perlu berfikir dengan tepat dengan adanya air dapat dimanfaatkan
sebaik-baiknya, maka jangan jadikan air dalam keadaan yang mubazir. Juga
menjadi analogi bagi kehidupan sosial, sebagaimana ari mempunyai sifat yang
lembut dan taat aturan serta berusaha dirinya selalu dalam keadaan bersih.
Dengan sebab itu nilai interaksi
dalam hubungan manusia dengan air tidak dapat dihindarkan. Maka secara tidak
langsung manusia sebenarnya juga diperintahkan untuk melestarikan air dengan
baik, karena kerusakan pada air dapat memberi efek kepada semua makhluk yang
ada di muka bumi.
Daftar Pustaka
Yusuf
Al-Qardhawi, Khithabuna Al-Islami fi Ashr Al-Aulamah, terj. M. Abdillah Noor
Ridlo, Retorika Islam, Jakarta Timur: Khalifa, 2004.
Tim Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Air Dalam Perspektif Al-Qur`an dan Sains, cet.
1, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2011
Tim Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, Tafsir Al-Qur`an Tematik, jild 4, cet.1,
Jakarta: Kamil Pustaka, 2014.
Muhammad
Aminullah, Interaksi Manusia Dengan Air Dalam Perspektif Alquran (Tinjauan
Alamtologi Dalam Komunikasi), MEDAN 2017
Komentar
Posting Komentar