Langsung ke konten utama

KARAKTERISTIK IBDAL ALIF WA DAN YA DAN KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA’


KARAKTERISTIK IBDAL ALIF WA DAN  YA DAN  KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA’

Isabela Gobel

Email : Isabelagobel20gmail.com

Abstrak:
Pembuatan artikel ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dalam mata kuliah Qawaidul imla wal khat, artikel ini mengfokuskan pada, 1). Karakteristik Ibdal yang akan berkaitan dengan huruf Alif wa dan ya dan, 2). dan Bagaimana penjelasan Ilmu Rasm dan Imla’ dalam kaidahnya sebagai salah satu rujukan Ilmu Bahasa Arab, Artikel ini diambil dari berbagia sumber lalu disusun secara mendetail agar memudahkan pembaca untuk membaca dan  mempelajarinya. Bisa memberikan maanfaat dan bisa meningkatkan kita dalam kemampuan kita dalam mengenal huruf-huruf Arab dengan pemahaman yang dilandasi kaidahnya.
Kata Kunci: Ibdal, Rasm mushaf, Imla’ dan Kaidahnya

A.          PENDAHULUAN
1.                LATAR BELAKANG
Ilmu kebahasaan atau ilmu Linguistik selalu menjadi kajian yang menarik dan tidak ada habisnya (Syifa et al., 2018). Diantaranya adalah ilmu Shorof. Ilmu ini membahas tentang perubahan bentuk kata. Dari masa-ke masa, perkembangan ilmu tetntang kebahasaan selalu mengelami perkembangan. Objek bahasa yang sangat luas, membuat para ahli bahasa membuat spekulasi-spekulasi, dan mengklasifikasi objek kajian dalam bahasa. Hal ini yang menyebabkan ilmu tentang bahasa selalu mengalami pembaharuan, karena sifat bahasa yang produktif dan dinamis, disamping karena bahasa selalu terikat dengan manusia, karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia.
Bahasa merupakan sebuah sistem (Syifa et al., 2018). Hal ini bermakna, bahwasannya bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang tersusun secara sistemis dan sistematis. Sistemis bermakna bahwa bahasa tersesusun secara terstruktur, berpola atau tidak sembarangan, sistematis bermakna bahwa bahasa terdiri dari beberapa aspek atau subsistem yang saling berhubungan. Ilmu shorof (Asy et al., 2016) sangat diperlukan dalam memahami iteratur-litratur Arab terutama Al-Qur’an dan hadi>th yang sulit dipahami dan bahkan banyak yang memberikan interpretasi,
ilmu shorof kaidah yang mengatur perubahan kata kerja dalam sebuah kalimat. Perubahan kata kerja dalam bahasa Arab disesuaikan berdasarkan jumlah subjek, waktu, dan jenis subjek, dalam istilah lain disebut dengan kaidah morfologi. Salah satu yang berbeda dengan bahasa Indonesia adalah kaidah morfologi. Dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata kerja tidak menyesuaikan dalam subjek, waktu, dan jenis subjeknya.(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018).
Dalam bahasa Arab, morofologi disebut dengan ilmu shorof. Abdul Lathif
dalam Azhar (Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018) mengatakan, : “Ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari struktur kata dan keaslian huruf-hurufnya, penambahannya, penghapusannya, kemurniannya, penggantiannya, dan segala pengubahan yang terjadi”. Jadi mempelajari ilmu shorof adalah mempelajari perubahan-perubahan kata dalam kalimat.
            Dalam hal ini saya akan membahas bagian dari pada ilmu shorof yang berkaitan tentang karakteristik ibdal, Alif, wa, dan ya,. Dan kaidah ilmu Rasm dan Imla’ dalam menjelaskan ibdal Alif wa dan ya.
2.                RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan di bahas yang megandung unsur-unsur yang menarik berhubungan dengan: a).Apa karakteristik Ibdal yang akan berkaitan dengan huruf Alif, wa, dan ya. Dan, b). dan bagaimana penjelasan Ilmu Rasm dan Imla’ dalam kaidahnya sebagai salah satu rujukan ilmu Bahasa Arab.
3.               TUJUAN dan MANFAAT
Pada dasarnya tujuan penulisan artikel ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan artikel untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla. Adapun Tujuan khusus penyusunan artikel ini adalah untuk bisa menjelaskan tetang karakteristik Ibdal Alif wa dan ya. yang di bahas dalam kaidahnya ilmu Rasm  Mushaf  dan Imla’ yang merupakan bagian dari pada pembelajaran Bahasa Arab dan memiliki manfaat ketika mempelajari-Nya dalam mata kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla yang merupakan mata kuliah yang berkaitan tentang penulisan huruf Al-Qur’an dengan mempelajarinya bisa memberikan maanfaat dan bisa meningkatkan kita dalam kemampuan kita dalam mengenal huruf-huruf Arab dengan pemahaman yang dilandasi kaidahnya, dalam konteks ini Allah telah memberikan kemudahan bagi kita untuk mempelajarinya sebagai mana bunyi firman dalam Quran Surah Yusuf pada ayat kedua:
      إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
(QS.Yusuf [12]: 2)
            Dengan landasan ayat yang ada di atas, bisa dipahami bahwa dengan  mempelajari Mata Kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla yang membahas tentang kaidah-kaidah yang bersangkutan dengan Bahasa Arab telah dimudahkan dan akan memberikan manfaat bagi pembaca yang mempelajarinya.
bahasa arab mempunyai keistimewaan dari beberapa bahasa yang lain. Diantara dalam segi fonologi (bunyi), dimana bunyi huruf hija’iyah tidak bisa direfleksikan dengan abjad dan cara pengucapannya pun khusus. Dalam segi morfologi (sorf), pembentukan kata dalam bahasa arab bisa terbuat dari lafadz yang huruf dan maknanya masih berhubungan. Dalam segi sintaksis (nahwu), pengaruh harokat akhir kata mempengaruhi kedudukan kata dalam struktur, serta adanya prinsip kesesuain dalam menyusunnya. Dalam segi semantik (dilalah), membahas tentang makna tersirat dalam teks bahasa arab terutama dalam teks Al-Qur’an.(Asy et al., 2016), Ibnu Katsir berbendapat (Abdurochman, n.d.): Bahwasanya bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih (jelas dan lugas) di antara bahasa-bahasa yang ada, paling jelas, luas cakupannya dan arti kalimat yang digunakan memiliki pengaruh tersendiri bagi jiwa (hati) baik bagi yang membaca atau yang mendengar.
Bahasa Arab merupakan bahasa penghuni ahli surga, diriwayatkan dari Ibnu Abas: Rasulullah SAW bersabda:
احبلوا العر ب لثلا ث، لأ ني عر بي، و القر ان عر بيي، وكلام اهل الجنة عربي
Artinya: Cintailah Bahasa Arab karena tiga hal, karena saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab dan bahasa penduduk ahli surga.

B.        PEMBAHASAN KARAKTERISTIK  IBDAL ALIF WA DAN YA DAN KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA’
1.            Pengertian ibdal Alif wad an ya, Pembagian beserta macam-macamnya
          Ilmu rasm dan Imla’
Dari bapak Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A., dalam bukunya Qawaid Al-Imla’ wa Al-Khat.(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018), Al–Ibdal (الإبدال) adalah membuang suatu huruf dan menempatkan huruf lain di tempatnya.[1]
Al-Ibdal itu sama seperti i’lal. Hanya saja dalam i’lal yang menjadi sasaran adalah huruf illat (huruf berpenyakit), artinya huruf illat yang satu mengganti tempatnya huruf illat yang lain. Sedangkan dalam Ibdal yang menjadi objeknya adalah huruf illat maupun huruf shahih. Artinya menempatkan huruf shahih di tempat huruf shahih yang lain.
Adapun tentang rasm yaitu Kata rasm berasal dari kata rasama, yarsumu, rasma, berarti menggambar atau melukis. Kata rasm ini juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan.(THOHAROH, 2018),  Ilmu rasm Al-Qur’an yaitu (Khallaf, n.d.)ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf Al- Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya. Sedangkan Imla’(Rahmi, 2016) adalah seni menulis yang mempunyai kaidah/aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan terdahulu, ada yang memngkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang bertujuan untuk menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan ada yang bertujuan untuk menjelaskan asal kata. Al-Hafz (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf), atau yang berkaitan dengan penejelasan Ibdal yang ada di atas. Adapun huruf-huruf yang di buang adalah Alif, wawu, ya. Contohnya:
a)                  H}az\f huruf alif pada ya’ nida’ (panggilan)
Lafal
Keterangan
يَأَيُّهَا النّاشُ
semua huruf alif padasetiap perkataan tersebut dihadzf dan diganti dengan huruf alif kecil.
b)                  Hurur ya’
Lafal
Keterangan
باَ غٍ ، عاَ دٍ
Membuang huruf ya’ apabila terletak pada isim manqush yang dibaca tanwin, baik yang dibaca rafa’ atau jar, seperti  pada lafal di samping
يَعِبَا دِىَ الَّذِينَ أشْرَفُواْ[2]
Membuang huruf ya dari kata yang diidhafahkan kepadnya, jika dipanggil, kecuali pada lafal di samping

c)                  Huruf wawu
Lafal
Keterangan
وَيَدْعُ الْإِنشنُ [3]
Membuang huruf wawu yang berbentuk mufrad, seperti pada lafal disamping.

Dan Dalam Bahasa Arab huruf Alif, memiliki beberapa karakter, baik ketika ditulis maupun bentuknya. Diantara karakter huruf alif adalah: Alif Yabisah, Layyinah, Mamduddah, dan Maqshurah. Berdasarkan diatas bahwa Alif memiliki empat karakter(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, n.d.), berikut ini penjelasannya:
1)                  Alif Yabisah
 Alif yabisah adalah alif yang dapat menerima harakat atau syakal, baik dalam keadaan fathah (a), kasrah (i) dan dhummah (u). Alif pada kondisi ini kebanyak merupakan alif asli yang merupakan komponen huruf yang tidak bisa dipisahkan dengan huruf lain.
 Contoh Hamzah:
اَكَلَ- اَلْحَمْدُ – بَدَعَ – سؤَالٌ – إحْسَا نٌ
2)                  Alif Laniyah
 Alif Layyinah biasa disebut dengan “Alif” saja. Ia selalu mati/sukun, dan tidak menerima harakat. Alif layyina mempunyai dua tempat, yaitu di tengah kata dan akhir kata.
Contoh Alif: كِتَابُ ، عَا لِمٌ ، سَوَءٌ، سَما ءٌ،
Kaidah:
1.                  Alif Layyinah di Tengah Kata Alif
Alif Layyinah yang berada ditengah kalimat secara muthlaq ditulis dengan alif baik menengahinya tersebut disebabkan oleh huruf asal, Contoh    قال، قام ،صام ، م atau selainnya, contoh فتاه، ليلاى، مقتضام، يخشاه، يرضاه،
 يخشا نى، إلام، علا م، حتام
2.                  Alif Layyinah di Akhir Kata
 Alif layyinah yang berada di akhir kata terkadang ditulis dengan ya’ atau (alif ta’nits maqshurah) yaitu ;
a)                  Didalam setiap isim yang terdiri dari tiga huruf yang terdapat alif pengganti dari ya’. Contoh، الهدى  الفتىkalau alifnya mengganti wawu maka ditulis alif. Contoh ,العلا ,اصعلا ,اقفا، العصا، العضا
b)                  Didalam setiap isim arobi yang lebih dari tiga huruf dan huruf sebelum terahir bukan ya’ contoh     صغرى، كبرى، حبلى، خجلى، dan kalau huruf sebelum terakhir berupa ya’ maka ditulis alif dengan secara mutlaq contoh دنيا، قضا، مهي،ثر، ر
c)                  Didalam lima isim alam ajami contoh كسرى، جخرى، ملوس،عيسى، ـمتى،  dan isim alam yang selain lima isim alam ini ditulis dengan alif دارا، زليخا، فا، ينها، شبرا
d)                  Didalam lima isim mabni contoh   لدى، أنى، متى، اولى، الالى،   selain lima isim mabni tersebut ditulis dengan alif contoh مهدا، أ ، إذا  
e)                 Didalam setiap fi’il tiga huruf yang alifnya mengganti dari ya’ contoh سعى، مسى، رعى، رمى، dan kalau alifnya mengganti wawu maka ditulis alif. Contoh  دعا، غزا، عفا،  dan ada sebagian ulama menulis bagian yang kelima ini dengan alif secara muthlak.
f)             Didalam setiap fi’il yang lebih dari tiga huruf apabila huruf sebelum alif bukan ya’أهدى، اتهدى، اتى، خلى، صلى،  apabila berupa ya’ maka ditulis alif karena benci berkumpulnya dua bentuk ya’. Contoh يحيا، استحيا، تبيا، تز ،
g)                Didalam empat huruf seperti الى، على، حتى، يلى ،  sedangkan huruf yang lain ditulis alif contoh لا، هلا، خلا،
h)                  Dan didalam keterangan diatas terdapat dua qaidah yang umum, yaitu ;
i)                   Setiap alif yang berada didalam kalimat yang fa’ atau ain fi’ilnya berupa wawu maka ditulis dengan ya’. Contoh وعى، وقى، جوى، هوى،
j)                    Setiap alif yang berada didalam kalimat yang ain fi’ilnya berupa hamzah juga ditulis dengan alif karena ulama benci kepada berkumpulnya dua alif. Contoh ى ، شأى، فأى،
3.                Alif Mamdudah
Alif Mamdudah biasa disebut dengan Alif Ta’nits Mamdudah adalah isim mu’rab yang huruf terakhirnya berupa hamzah dan sebelum hamzah itu terdapat alif zaidah, seperti (شماءُ) dan (صحْراءٌ)  Alif mamdudah seperti bentuk alif yang sebagaimana kita kenal (ا) Alif mamdûdah adalah alif tambahan pada isim (kata benda) seperti اَسَّمَا ءْ ، ألصْراءُ ،  Alif mamdudah ada yang berasal dari “waw” seperti سَمَاءُ berasal dari سماء ada yang berasal dari “ya” بناَّ، مشَّء،  berasal dari
، مشا يٌ،  بنا يُ  Ada juga tambahan sebagai pertanda untuk ta’nis seperti  حسناء ، حمراء
4.               Alif Maqshurah
Alif maqshurah adalah alif yang ditulis dalam bentuk ya’ tanpa titik(). Alif maqshurah adalah salah satu huruf Arab yang merupakan varian dari huruf alif, alif maqshurah bukanlah salah satu dari ke-28 huruf hijaiyah/huruf Arab. Alif maqshurah melambangkan fonema yang dibaca panjang dan selalu berada di akhir dalam keadaan mad dan tidak pernah mendapatkan tasykil lain seperti fathah, kasrah atau dammah.
Alif maqshurah serupa dengan huruf ya ي namun tanpa dua titik di bawahnya, dan menurut aturan baku bahasa Arab standar, huruf ini berbeda dengan huruf ya sehingga sering menimbulkan kesalahan dalam penulisan, seperti pada lafaz  قى yang seharusnya ditulis قي walaupun alif maqhsurah terlihat serupa dengan huruf ya dalam bahasa Persia.Contoh penggunaan alif maqshurah pada lafaz يحيى yang serupa dengan يحيا , /Yahya.[4]
       di dalam I’lal membuang huruf Illat, mengganti huruf illat atau membaca  sukun huruf tersebut. Adapun kaidahnya dalam huruf “wau” dan “ya” sebagai berikut:
a)               Wawu/Ya’ diganti Alif (Ibdal)
Apabilah ada Wawu atau Ya’ berharakat, jatuh sesudah harakah Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tersebut harus diganti dengan Alif seperti contoh : صَانَ asalnya صَوَنَ dan ع asalnya بَيَعَ
b)               Harakat huruf Wau / Ya’ Bina’ Ajwaf, dipindah pada huruf sebelumnya.
Apabila wau atau ya’ berharakat berada pada ‘ain fi’il Bina’ Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang mati/sukun, maka harakat wawu atau ya’ tersebut harus dipindah pada huruf sebelumnya. Contoh:  يَقُوْمُasalnya يَقْوُمُ dan يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ
c)            Wawu/Ya’ dibelakang Alif Zaidah diganti Hamzah, pada Ain Fiil Isim Fail atau akhir Isim Masdar (Ibdal)
Apabila ada wawu atau ya’ jatuh sesudah alif zaidah, maka harus diganti hamzah, dengan syarat wau atau ya’ tersebut berada pada ‘Ain Fi’il kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah bentuk masdar. Contoh: صا ءِنٌ asalnya  صَونٌ dan   سَاإرٌ asalnya سَايِرٌ dan لِقَاءٌ asalnya لِقَاٌ يٌ
d)               Wau diganti Ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan yang pertama sukun.
Apabila wau dan ya’ berkumpul dalam satu kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka wau diganti ya’. Kemudian ya’ yang pertama di-idgham-kan pada ya’ yang kedua. Contoh : مَيْتٌ  asalnya ميْوتٌ  
e)                Harakat Dhummah wau atau ya’ di akhir kalimah diganti Sukun
Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung akhir kalimah, dan berharakah dhummah, maka disukunkan. Contoh:  يَرْمِىْ asalnya يَؤمِىُ[5]
Adapun beberapa penjelasan tentang ibdal beserta contoh, dalam kaidanya yang terulis dalam buku Qawaid al-imla’ wa al-khat., (Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, n.d.)[6]
a)               Kaidah 1
Huruf waw dan ya’ diganti hamzah apabila berada di akhir kata dan sesudah alif zayidah ( tambahan ).
Contoh:
Lafal
Asal
Arti Lafal
Asalnya fi’il
دُعاً ءٌ
دُعَاوٌ
Doa/permohonan
دَعَا – يَدعُو
بَنَا ء
بَنَاىٌ
Bangunan
بَنَى- يَبْنَى
Begitu pula alif yang berada di akhir dan sesudah alif zaidah juga diganti hamzah,
contoh:
Lafal
Asal
Arti lafal
Wazan
حمراء
حمرى

سكْرَى

b)               Kaidah 2
Huruf waw dan ya’ diganti hamzah ketika ‘ainnya isim fa’il dan dii’lal pada fi’ilnya.
Contoh.
Isim fa’il
Asal
Arti
Fi’ilnya
Asal
قَاءِلٌ
قَاوِلٌ
Yang berkata
قَلَ
قَوَلَ
ءِعً
يِعً
Yang menjual
عَ
بَيَعَ

c)                  Kaidah 3
 Huruf mad zaidah yang berada isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu harus diganti hamzah apabila isim tersebut mengikuti wazan مفَاعِا Baik huruf mad tadi berupa alif, waw atau ya’
Contoh:
Huruf mad
Mufrad
Jamak
Arti
Alif
قلادة
قلا ءد
Kalung
Wawu
وجاءز
عجو
Perempuan yang tua
Ya’
صحاءف
صحيفة
Muka

d)                  Kaidah 4
 Apabila alifnya jamak yang mengikuti wazan مَفَا عِلُ itu berada di antara dua huruf illat pada isim shahihul akhir, maka huruf illat yang kedua diganti hamzah.
Contoh:
Mufrad
Jamak
Asal
Arti
اَوَّلَ
اَوَاءِلُ
اَوَاوِلُ
Yang awal, pertama
سَيِّدٍ
سَيَءِدَ
سَيَاوِدُ
Pemimpin, ketua
نَيْفٍ
نَيَاءِفُ
نَيَا وفُ
Anugerah

e)                  Kaidah 5
 Apabila ada waw yang berharakat dhummah dan berada sesudah huruf yang sukun atau sesudah huruf yang dibaca dhummah pula, maka waw boleh diganti hamzah dan boleh pula ditetapkan (tidak diganti hamzah ). Tetapi yang diganti lebih bagus daripada yang tidak.
Contoh:
Mufrad
Jamak dengan
Diganti hamzah
Tetap
Arti
دار
ادور
ادور
Rumah
حال
حوول
حوول
Yang menghalang-halangi

f)                   Kaidah 6
 Setiap kata yang telah kumpul padanya huruf waw yang di depan,
maka waw yang pertama wajib diganti hamzah sepanjang waw yang kedua tadi tidak gantian (berasal) dari alifnya مُفَا عَلَةٌ Sama juga waw yang pertama itu sebagai huruf mad seperti pada nomor 1, atau tidak seperti contoh nomor 2 di bawah ini:
                        Contoh:
Lafal
Arti
Asal
Keterangan
الا ولىَ
Yang pertama
الو ول
Muanas dari الاولَى
الاُول
Beberapa yang pertama
الوُول
Jamak dari الاولَى

Kaidah 7
Apabila fa’nya fi’il yang mengikuti wazan اِفْتَعَلَ itu berupa waw atau ya’, maka harus diganti ta’ dan kemudian diidghamkan (masukkan) ke dalam ta’-nya.
Contoh:
Lafal
Asal
Arti
إتّصلَ
إوقَصل
Berkelanjutan, telah sampai
إتّسر
إيْتَسَرَ
Menjadi mudah
إتّقى
إوتقى
Menjadi oarng yang bertakwa kepada Sesuatu Allah
Yang demikian tadi dengan syarat bahwa ya’ tersebut tidak berasal (gantian) dari hamzah. Kalau ya’ berasal dari hamzah, maka tidak boleh diganti ta’
Contoh:
Lafal
Asal
Arti
إيْتمر
إءتَمَرَ
Mengikuti perintah / bermusyawarah
Namun ada juga yang diganti ta’, tetapi sedikit. Contoh:
Lafal
Asal
Asalnya asal
Arti
إتَّزَرَ
إيْتَزَرَ
إءتَزَرَ
Menggenakan kain penutup badan
Yang termasuk ini adalah hadist yang berbunyi:
إذَا كاَنَ (اى الثوب)قَصِيْرً لفَلْيَتَّزِرْبِهِ Artinya: “apabila pakaian itu pendek, maka pakailah dia sebagai tutup badan”.
g)                  Kaidah 8
 Apabila fa’ fi’il-nya fi’il yang mengikuti wazan إفْتَغَلَ itu berupa tsa’ maka ta’-nya wajib diganti tsa’ kemudian diidghamkan.

Contoh:
Lafal
Asal
Arti
إثَّاَرَ
إيْثَاَرَ
Menunutut balas
Apabila fa’nya berupa dal, dzal, atau za’, maka huruf ta’-nya wajib diganti dal.
Contoh:
Lafal
Asal
Arti
إدَّعى
إدْتَعَى
Mengaku
إذْدَمكَرَ
إذْتَكَرَ
Mengigat
إزْدَهَى
إزْتَهَى
Menjadi sombomg
Apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’, atau dzha’, maka ta’-nya wajib diganti tha’
Contoh:
Lafal 
Asal
Arti
إصْطَفَعَ
إصْذَفَى
Memilih
إضْطَجَعَ
إضْتَجَعَ
Tidur miring
إطَّرَدَ
إطْنَزَدَ
Berlaku secara umum/Sampai
Boleh diidghamkan sesudah huruf dal dan tha’ tersebut diganti dengan huruf yang sejenis dengan huruf sebelumnya sehingga lafal tersebut menjadi:
إذَّكَرَ ، إزَّهَى ، إصَّفَى ، إضجَعَ ، إظَّلَمَ
h)                  Kaidah 9
 Fi’il yang fa’ fi’il-nya berupa : tsa’, dzal, dal, za’, shad, dhad, tha’, atau dzha’ dari fi’il yang mengikuti wazan   تَفَاعَلَ تَفَعَّلَ تَفَعْلَلَ  itu sekiranya huruf ta’ pada wazan itu kumpul dengan fa’ kalimat tersebut diatas, maka padanya boleh dilakukan adanya penggantian huruf ta’ dengan huruf yang bisa sesuai (sejenis) dengan huruf sesudahnya, kemudian huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke dalam huruf sesudahnya. Sesudah demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya berupa huruf yang sukun, maka wajib mendatangkan hamzah washal.
Contoh:
Lafal
Asal
Arti
إثَّقَلَ
تَثَاقَلَ
Menjadi berat
إدَّثَرَ
تَدَثَّرَ
Melompati
إذَّكَرَ
تَزَكَّرَ
Mengingat – ngingat

i)                   Kaidah 10
 Apabila ada huruf ta’, yang mati sebelum huruf dal, maka huruf ta’ wajib diganti dal dan kemudian diidghamkan ke dalam huruf dal sesudahnya.
Contoh:
Lafal
Asal
Jamak dari
Arti
عِدَّنِ
عِيْدَنِ
عَتود
Anak kambing laki-laki

j)                    Kaidah 11
 Apabila ada huruf nun mati yang berada sebelum huruf mim atau ba’, maka huruf nun itu harus diganti mim,
contohnya:
Lafal
Asal
Arti
إمَّحَى
إنَمَحَى
Terhapus
سُمْبَلَ
سُنْبَلَ
Satu Tangkai
Hanya saja lafal yang kedua ini digantinya huruf nun dengan mim itu hanya dalam ucapanya saja sedang dalam tulisanya masih ditulis nun
k)               Kaidah 12
Huruf waw diganti mim sesudah huruf ha’ yang ada padanya dibuang.
Contoh:
Lafal
Asal
Arti
Jamanya
فَمِ
فوه
Mulut
افواهٍ

Dan pada saat lafadz tersebut dimudhafkan, maka huruf mim boleh dikembalikan berupa huruf aslinya yaitu wawu, dan boleh huruf mim sebagai pengganti waw tadi ditetapkan.
Contoh:
Lafal
Arti
Keterangan
هَذَا فُوْكَ
Ini mulutmu
Mim dikembalikan berupa wawu
هَذَا فَمُكَ
inimulutmu
Mim sebagai pengganti waw ditetapkan

C.              KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan yang ada di atas sesuai dengan keterangan yang ada, menjelaskan tentang pengertian, pembagian serta macam-macamnya yang dibahas sesuai dengan permasalahan dalam rumusan, ibdal alif wad an ya dan kaidahnya dalam ilmu rasm dan imla, ibdal yang memiliki pengertian membuang suatu huruf dan menempatkan huruf lain di tempatnya. Al-Ibdal itu sama seperti i’lal. Hanya saja dalam i’lal yang menjadi sasaran adalah huruf illat (huruf berpenyakit), artinya huruf illat yang satu mengganti tempatnya huruf illat yang lain. Sedangkan dalam Ibdal yang menjadi objeknya adalah huruf illat maupun huruf shahih. Artinya menempatkan huruf shahih di tempat huruf shahih yang lain.
Dalam hal ini semuanya berada dalam kaidahnya ilmu rasm dan imla’ yang merupakan ilmu menggambar ataupun melukis yang resmi dan memiliki aturan dalam artian menggambar,  melukis ataupun melulis mushaf AL-Quran yang dilakukan secara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya, dan bisa menjadi sebuah seni menulis yang mempunyai kaidah/aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan terdahulu ada yang memngkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang bertujuan untuk menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan ada yang bertujuan untuk menjelaskan asal kata.
Dalam penjelasan di atas bahwa alif wa dan ya memilki kaidah-kaidah baik dejelaskan dalam kaidah nya ibdal dan disertai penjelasan tambahan dalam I’lal kaidahnya membuang huruf wawu dan ya’ serta kaidah ilmu rasm dan imla yang menjelaskan tentang membuang huruf alif, wawu dan ya, yang disertai keterangan penjelasannya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurochman, H. (n.d.). BAHASA ARAB: KEISTIMEWAAN, URGENSI DAN HUKUM MEMPELAJARINYA. 1–15.
Asy, H., Arab, P. B., Pesantren, I., & Abdul, K. H. (2016). Keistimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al- Qur ’ an. 1(01), 21–28.
Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, . (2018). Nahwu dan shorof perspektif pembelajar bahasa kedua. 103–112.
Khallaf, A. W. (n.d.). Abdull Wahab Khallaf, Ilmu ushul al-Fiqh, (Cet. I Mesir:Maktabah al-Da’wa al-Islamiyah, 1968), h.21 Ibid. h 34.
Rahmi, N. (2016). Pengembangan Materi Qawa’id Imla’ sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I ( Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro ).
An-Nabighoh: Jurnal Pendidkandan Pembelajaran Bahasa Arab IAIN Metro Lampung, 20(01), 111–128. https://doi.org/https://doi.org/10.32332/an-nabighoh.v20i01
Syifa, A., Wahyu, K., & Malang, U. N. (2018). EKUIVALENSI ANTARA ILMU MORFOLOGI DAN ILMU SHARF. KAJIAN TETNANG BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA ARAB, 468–478.
THOHAROH, A. (2018). MUSHAF AL-QUR’AN STANDAR USMANI INDONESIA DAN MUSHAF MADINAH (Kajian atas Ilmu Rasm) BAB II. 31–90.




[1]Dr. Ibnu Rawandhy N. Huda, M.A., Qawaid Al-Imla wa Al-Khat (Sulan Amai Gorontalo, Jl. Sultan Amai No.1Kel. Pone, Kec. Limboto Barat Kab. Gorontalo), Cet. I, hlm. 71.
[2] Az-Zumar ; 53
[3] Al-Isra : 11
[4] Ibid, hlm 91-98
[5] Ibid, hlm.  86-87
[6] Ibid, 71-83

Komentar