KARAKTERISTIK
IBDAL ALIF WA DAN YA DAN KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA’
Abstrak:
Pembuatan artikel ini bertujuan untuk
mengetahui permasalahan dalam mata
kuliah Qawaidul imla wal khat, artikel ini mengfokuskan pada, 1). Karakteristik
Ibdal yang akan berkaitan dengan huruf Alif wa dan ya dan, 2). dan Bagaimana
penjelasan Ilmu Rasm dan Imla’ dalam kaidahnya sebagai salah satu rujukan Ilmu
Bahasa Arab, Artikel ini diambil dari berbagia sumber lalu disusun secara
mendetail agar memudahkan pembaca untuk membaca dan mempelajarinya. Bisa memberikan maanfaat dan bisa
meningkatkan kita dalam kemampuan kita dalam mengenal huruf-huruf Arab dengan
pemahaman yang dilandasi kaidahnya.
Kata
Kunci: Ibdal, Rasm mushaf, Imla’ dan Kaidahnya
A.
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Ilmu kebahasaan atau ilmu
Linguistik selalu menjadi kajian yang menarik dan tidak ada habisnya (Syifa et al., 2018). Diantaranya adalah ilmu Shorof.
Ilmu ini membahas tentang perubahan bentuk kata. Dari masa-ke masa,
perkembangan ilmu tetntang kebahasaan selalu mengelami perkembangan. Objek
bahasa yang sangat luas, membuat para ahli bahasa membuat spekulasi-spekulasi,
dan mengklasifikasi objek kajian dalam bahasa. Hal ini yang menyebabkan ilmu
tentang bahasa selalu mengalami pembaharuan, karena sifat bahasa yang produktif
dan dinamis, disamping karena bahasa selalu terikat dengan manusia, karena
bahasa merupakan alat komunikasi manusia.
Bahasa merupakan sebuah
sistem (Syifa et al., 2018). Hal ini bermakna,
bahwasannya bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang
tersusun secara sistemis dan sistematis. Sistemis bermakna bahwa bahasa
tersesusun secara terstruktur, berpola atau tidak sembarangan, sistematis
bermakna bahwa bahasa terdiri dari beberapa aspek atau subsistem yang saling
berhubungan. Ilmu shorof (Asy et al., 2016) sangat diperlukan dalam
memahami iteratur-litratur Arab terutama Al-Qur’an dan hadi>th yang sulit
dipahami dan bahkan banyak yang memberikan interpretasi,
ilmu shorof kaidah yang
mengatur perubahan kata kerja dalam sebuah kalimat. Perubahan kata kerja dalam
bahasa Arab disesuaikan berdasarkan jumlah subjek, waktu, dan jenis subjek,
dalam istilah lain disebut dengan kaidah morfologi. Salah satu yang berbeda
dengan bahasa Indonesia adalah kaidah morfologi. Dalam bahasa Indonesia,
penggunaan kata kerja tidak menyesuaikan dalam subjek, waktu, dan jenis
subjeknya.(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018).
Dalam bahasa Arab, morofologi
disebut dengan ilmu shorof. Abdul Lathif
dalam Azhar (Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018) mengatakan, : “Ilmu shorof
adalah ilmu yang mempelajari struktur kata dan keaslian huruf-hurufnya,
penambahannya, penghapusannya, kemurniannya, penggantiannya, dan segala
pengubahan yang terjadi”. Jadi mempelajari ilmu shorof adalah mempelajari
perubahan-perubahan kata dalam kalimat.
Dalam
hal ini saya akan membahas bagian dari pada ilmu shorof yang berkaitan tentang
karakteristik ibdal, Alif, wa, dan ya,. Dan kaidah ilmu Rasm
dan Imla’ dalam menjelaskan ibdal Alif wa dan ya.
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di
atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan di bahas yang megandung
unsur-unsur yang menarik berhubungan dengan: a).Apa karakteristik Ibdal yang
akan berkaitan dengan huruf Alif, wa, dan ya. Dan, b). dan bagaimana penjelasan
Ilmu Rasm dan Imla’ dalam kaidahnya sebagai salah satu rujukan
ilmu Bahasa Arab.
3. TUJUAN dan MANFAAT
Pada dasarnya tujuan penulisan artikel
ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam
penyusunan artikel untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Al-Khat wa Qawaid
Al-Imla. Adapun Tujuan khusus penyusunan artikel ini adalah untuk bisa
menjelaskan tetang karakteristik Ibdal Alif wa dan ya. yang di
bahas dalam kaidahnya ilmu Rasm
Mushaf dan Imla’ yang
merupakan bagian dari pada pembelajaran Bahasa Arab dan memiliki manfaat ketika
mempelajari-Nya dalam mata kuliah Al-Khat wa Qawaid Al-Imla yang
merupakan mata kuliah yang berkaitan tentang penulisan huruf Al-Qur’an dengan
mempelajarinya bisa memberikan maanfaat dan bisa meningkatkan kita dalam
kemampuan kita dalam mengenal huruf-huruf Arab dengan pemahaman yang dilandasi
kaidahnya, dalam konteks ini Allah telah memberikan kemudahan bagi kita untuk
mempelajarinya sebagai mana bunyi firman dalam Quran Surah Yusuf pada ayat
kedua:
إِنَّآ
أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
Artinya: Sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
(QS.Yusuf [12]: 2)
Dengan landasan ayat yang ada di atas, bisa
dipahami bahwa dengan mempelajari Mata
Kuliah Al-Khat wa
Qawaid Al-Imla yang
membahas tentang kaidah-kaidah yang bersangkutan dengan Bahasa Arab telah
dimudahkan dan akan memberikan manfaat bagi pembaca yang mempelajarinya.
bahasa arab mempunyai keistimewaan dari beberapa bahasa yang
lain. Diantara dalam segi fonologi (bunyi), dimana bunyi huruf hija’iyah tidak
bisa direfleksikan dengan abjad dan cara pengucapannya pun khusus. Dalam segi
morfologi (sorf), pembentukan kata dalam bahasa arab bisa terbuat dari lafadz
yang huruf dan maknanya masih berhubungan. Dalam segi sintaksis (nahwu), pengaruh
harokat akhir kata mempengaruhi kedudukan kata dalam struktur, serta adanya
prinsip kesesuain dalam menyusunnya. Dalam segi semantik (dilalah), membahas
tentang makna tersirat dalam teks bahasa arab terutama dalam teks Al-Qur’an.(Asy et
al., 2016), Ibnu Katsir berbendapat (Abdurochman,
n.d.): Bahwasanya bahasa Arab merupakan
bahasa yang paling fasih (jelas dan lugas) di antara bahasa-bahasa yang ada,
paling jelas, luas cakupannya dan arti kalimat yang digunakan memiliki pengaruh
tersendiri bagi jiwa (hati) baik bagi yang membaca atau yang mendengar.
Bahasa Arab merupakan bahasa penghuni ahli surga,
diriwayatkan dari Ibnu Abas: Rasulullah SAW bersabda:
احبلوا
العر ب لثلا ث، لأ ني عر بي، و القر ان عر بيي، وكلام اهل الجنة عربي
Artinya: Cintailah Bahasa Arab karena tiga hal, karena
saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab dan bahasa penduduk ahli surga.
B. PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK IBDAL ALIF WA DAN YA DAN
KAIDAHNYA DALAM ILMU RASM MUSHAF DAN IMLA’
1.
Pengertian
ibdal Alif wad an ya, Pembagian beserta macam-macamnya
Ilmu rasm dan Imla’
Dari
bapak Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A., dalam bukunya Qawaid Al-Imla’ wa
Al-Khat.(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, 2018), Al–Ibdal (الإبدال) adalah
membuang suatu huruf dan menempatkan huruf lain di tempatnya.[1]
Al-Ibdal
itu sama seperti i’lal. Hanya saja dalam i’lal yang menjadi sasaran adalah
huruf illat (huruf berpenyakit), artinya huruf illat yang satu mengganti
tempatnya huruf illat yang lain. Sedangkan dalam Ibdal yang menjadi objeknya
adalah huruf illat maupun huruf shahih. Artinya menempatkan huruf shahih di
tempat huruf shahih yang lain.
Adapun
tentang rasm yaitu Kata rasm berasal dari kata rasama, yarsumu, rasma, berarti menggambar
atau melukis. Kata rasm ini juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau
menurut aturan.(THOHAROH, 2018), Ilmu rasm Al-Qur’an yaitu (Khallaf, n.d.)ilmu yang mempelajari
tentang penulisan mushaf Al- Qur’an
yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun
bentuk-bentuk huruf yang digunakannya. Sedangkan Imla’(Rahmi, 2016) adalah seni
menulis yang mempunyai kaidah/aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan
terdahulu, ada yang memngkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang
bertujuan untuk menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan
ada yang bertujuan untuk menjelaskan asal kata. Al-Hafz (membuang,
menghilangkan, atau meniadakan huruf), atau yang berkaitan dengan penejelasan
Ibdal yang ada di atas. Adapun huruf-huruf yang di buang adalah Alif, wawu, ya.
Contohnya:
a)
H}az\f huruf alif pada ya’ nida’
(panggilan)
Lafal
|
Keterangan
|
يَأَيُّهَا
النّاشُ
|
semua huruf alif padasetiap
perkataan tersebut dihadzf dan diganti dengan huruf alif kecil.
|
b)
Hurur ya’
Lafal
|
Keterangan
|
باَ
غٍ ، عاَ دٍ
|
Membuang
huruf ya’ apabila terletak pada isim manqush yang dibaca tanwin, baik yang
dibaca rafa’ atau jar, seperti pada lafal di samping
|
Membuang huruf ya‟ dari
kata yang diidhafahkan kepadnya, jika dipanggil, kecuali pada lafal di
samping
|
c)
Huruf wawu
Lafal
|
Keterangan
|
وَيَدْعُ
الْإِنشنُ [3]
|
Membuang
huruf wawu yang berbentuk mufrad, seperti pada lafal disamping.
|
Dan Dalam
Bahasa Arab huruf Alif, memiliki beberapa karakter, baik ketika ditulis maupun
bentuknya. Diantara karakter huruf alif adalah: Alif Yabisah, Layyinah,
Mamduddah, dan Maqshurah. Berdasarkan diatas bahwa Alif memiliki empat karakter(Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, n.d.), berikut ini penjelasannya:
1)
Alif Yabisah
Alif yabisah adalah alif yang
dapat menerima harakat atau syakal, baik dalam keadaan fathah (a), kasrah (i)
dan dhummah (u). Alif pada kondisi ini kebanyak merupakan alif asli yang
merupakan komponen huruf yang tidak bisa dipisahkan dengan huruf lain.
Contoh Hamzah:
اَكَلَ- اَلْحَمْدُ – بَدَعَ –
سؤَالٌ – إحْسَا نٌ
2)
Alif Laniyah
Alif
Layyinah biasa disebut dengan “Alif” saja. Ia selalu mati/sukun, dan tidak
menerima harakat. Alif layyina mempunyai dua tempat, yaitu di tengah kata dan
akhir kata.
Contoh Alif: كِتَابُ
، عَا لِمٌ ، سَوَءٌ، سَما ءٌ،
Kaidah:
Kaidah:
1.
Alif Layyinah di Tengah Kata
Alif
Alif Layyinah yang berada
ditengah kalimat secara muthlaq ditulis dengan alif baik menengahinya tersebut
disebabkan oleh huruf asal, Contoh قال، قام
،صام ، م atau selainnya, contoh فتاه،
ليلاى، مقتضام، يخشاه، يرضاه،
يخشا نى، إلام، علا م، حتام
2.
Alif Layyinah di Akhir Kata
Alif layyinah yang berada di akhir kata terkadang ditulis
dengan ya’ atau (alif ta’nits maqshurah) yaitu ;
a)
Didalam setiap isim yang terdiri dari tiga huruf yang
terdapat alif pengganti dari ya’. Contoh،
الهدى الفتىkalau alifnya mengganti wawu maka
ditulis alif. Contoh ,العلا ,اصعلا ,اقفا،
العصا، العضا
b)
Didalam setiap isim arobi yang lebih dari tiga huruf dan
huruf sebelum terahir bukan ya’ contoh صغرى، كبرى، حبلى، خجلى، dan kalau huruf sebelum terakhir berupa
ya’ maka ditulis alif dengan secara mutlaq contoh دنيا، قضا، مهي،ثر، ر
c)
Didalam lima isim alam ajami contoh كسرى،
جخرى، ملوس،عيسى، ـمتى، dan isim alam yang selain lima isim alam ini
ditulis dengan alif دارا، زليخا، فا، ينها، شبرا
d)
Didalam lima
isim mabni contoh لدى،
أنى، متى، اولى، الالى، selain lima isim mabni tersebut ditulis dengan alif contoh
مهدا، أ ، إذا
e) Didalam setiap fi’il tiga huruf yang alifnya mengganti dari
ya’ contoh سعى، مسى، رعى، رمى، dan kalau alifnya mengganti wawu maka ditulis alif. Contoh دعا،
غزا، عفا، dan ada sebagian ulama menulis bagian yang kelima ini dengan
alif secara muthlak.
f) Didalam setiap fi’il yang lebih dari tiga huruf apabila huruf
sebelum alif bukan ya’أهدى، اتهدى، اتى، خلى، صلى، apabila berupa ya’ maka ditulis alif karena benci
berkumpulnya dua bentuk ya’. Contoh يحيا، استحيا، تبيا، تز ،
g) Didalam empat huruf seperti الى،
على، حتى، يلى ، sedangkan huruf yang lain ditulis alif contoh
لا، هلا، خلا،
h)
Dan didalam keterangan diatas terdapat dua qaidah yang umum,
yaitu ;
i)
Setiap alif yang berada didalam kalimat yang fa’ atau ain
fi’ilnya berupa wawu maka ditulis dengan ya’. Contoh وعى،
وقى، جوى، هوى،
j)
Setiap alif yang berada didalam kalimat yang ain fi’ilnya
berupa hamzah juga ditulis dengan alif karena ulama benci kepada berkumpulnya
dua alif. Contoh ى ، شأى، فأى،
3. Alif Mamdudah
Alif Mamdudah biasa disebut dengan Alif Ta’nits Mamdudah adalah
isim mu’rab yang huruf terakhirnya berupa hamzah dan sebelum hamzah itu
terdapat alif zaidah, seperti (شماءُ) dan (صحْراءٌ)
Alif mamdudah seperti bentuk alif yang
sebagaimana kita kenal (ا)
Alif mamdûdah adalah alif tambahan pada isim (kata benda) seperti اَسَّمَا
ءْ ، ألصْراءُ ، Alif mamdudah ada yang berasal dari “waw” seperti سَمَاءُ berasal dari سماء ada yang berasal dari “ya” بناَّ،
مشَّء، berasal dari
،
مشا يٌ، بنا
يُ Ada juga tambahan sebagai pertanda untuk ta’nis seperti حسناء
، حمراء
4. Alif Maqshurah
Alif maqshurah adalah alif yang ditulis dalam bentuk ya’
tanpa titik(). Alif maqshurah adalah salah satu huruf Arab yang merupakan
varian dari huruf alif, alif maqshurah bukanlah salah satu dari ke-28 huruf
hijaiyah/huruf Arab. Alif maqshurah melambangkan fonema yang dibaca panjang dan
selalu berada di akhir dalam keadaan mad dan tidak pernah mendapatkan tasykil
lain seperti fathah, kasrah atau dammah.
Alif maqshurah serupa dengan huruf ya ي namun
tanpa dua titik di bawahnya, dan menurut aturan baku bahasa Arab standar, huruf
ini berbeda dengan huruf ya sehingga sering menimbulkan kesalahan dalam
penulisan, seperti pada lafaz قى yang seharusnya ditulis قي walaupun alif maqhsurah terlihat serupa
dengan huruf ya dalam bahasa Persia.Contoh penggunaan alif maqshurah pada lafaz يحيى yang serupa dengan يحيا , /Yahya.[4]
di dalam I’lal membuang huruf Illat, mengganti huruf illat
atau membaca sukun huruf tersebut.
Adapun kaidahnya dalam huruf “wau” dan “ya” sebagai berikut:
a) Wawu/Ya’ diganti Alif (Ibdal)
Apabilah ada Wawu atau Ya’ berharakat,
jatuh sesudah harakah Fathah dalam satu kalimah, maka Wawu atau Ya’ tersebut harus
diganti dengan Alif seperti contoh : صَانَ
asalnya صَوَنَ dan ع asalnya بَيَعَ
b) Harakat huruf Wau / Ya’ Bina’ Ajwaf, dipindah pada huruf
sebelumnya.
Apabila wau atau ya’ berharakat berada
pada ‘ain fi’il Bina’ Ajwaf dan huruf sebelumnya terdiri dari huruf Shahih yang
mati/sukun, maka harakat wawu atau ya’ tersebut harus dipindah pada huruf
sebelumnya. Contoh: يَقُوْمُasalnya يَقْوُمُ dan يَبِيْعُ asalnya يَبْيِعُ
c) Wawu/Ya’ dibelakang Alif Zaidah diganti Hamzah, pada Ain Fi‟il Isim Fa’il
atau akhir Isim Masdar (Ibdal)
Apabila ada wawu atau ya’ jatuh sesudah
alif zaidah, maka harus diganti hamzah, dengan syarat wau atau ya’ tersebut
berada pada ‘Ain Fi’il kalimah bentuk Isim Fail, atau berada pada akhir kalimah
bentuk masdar. Contoh: صا ءِنٌ
asalnya صَونٌ dan سَاإرٌ asalnya سَايِرٌ
dan لِقَاءٌ
asalnya لِقَاٌ
يٌ
d) Wau diganti Ya’ karena berkumpul dalam satu kalimah dan yang
pertama sukun.
Apabila wau dan ya’ berkumpul dalam satu
kalimah dan salah satunya didahului dengan sukun, maka wau diganti ya’.
Kemudian ya’ yang pertama di-idgham-kan pada ya’ yang kedua. Contoh : مَيْتٌ
asalnya ميْوتٌ
e) Harakat Dhummah wau atau ya’ di akhir kalimah diganti Sukun
Apabila Wau atau Ya’ menempati ujung
akhir kalimah, dan berharakah dhummah, maka disukunkan. Contoh: يَرْمِىْ asalnya يَؤمِىُ[5]
Adapun beberapa penjelasan tentang ibdal
beserta contoh, dalam kaidanya yang terulis dalam buku Qawaid al-imla’ wa
al-khat., (Dr. Ibnu
Rawandhy N. Hula, n.d.)[6]
a) Kaidah 1
Huruf waw dan ya’ diganti hamzah apabila
berada di akhir kata dan sesudah alif zayidah ( tambahan ).
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti Lafal
|
Asalnya fi’il
|
دُعاً
ءٌ
|
دُعَاوٌ
|
Doa/permohonan
|
دَعَا –
يَدعُو
|
بَنَا
ء
|
بَنَاىٌ
|
Bangunan
|
بَنَى-
يَبْنَى
|
Begitu pula alif yang berada di akhir
dan sesudah alif zaidah juga diganti hamzah,
contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
lafal
|
Wazan
|
حمراء
|
حمرى
|
سكْرَى
|
b) Kaidah 2
Huruf
waw dan ya’ diganti hamzah ketika ‘ainnya isim fa’il dan dii’lal pada fi’ilnya.
Contoh.
Isim fa’il
|
Asal
|
Arti
|
Fi’ilnya
|
Asal
|
قَاءِلٌ
|
قَاوِلٌ
|
Yang berkata
|
قَلَ
|
قَوَلَ
|
ءِعً
|
يِعً
|
Yang menjual
|
عَ
|
بَيَعَ
|
c)
Kaidah 3
Huruf mad zaidah yang berada isim shahih akhir dan sebagai
huruf ketiga itu harus diganti hamzah apabila isim tersebut mengikuti wazan مفَاعِا Baik huruf mad tadi berupa alif, waw atau
ya’
Contoh:
Huruf mad
|
Mufrad
|
Jamak
|
Arti
|
Alif
|
قلادة
|
قلا
ءد
|
Kalung
|
Wawu
|
وجاءز
|
عجو
|
Perempuan yang tua
|
Ya’
|
صحاءف
|
صحيفة
|
Muka
|
d)
Kaidah 4
Apabila alifnya jamak yang mengikuti wazan مَفَا
عِلُ
itu berada di
antara dua huruf illat pada isim
shahihul akhir, maka huruf illat yang kedua diganti hamzah.
Contoh:
Mufrad
|
Jamak
|
Asal
|
Arti
|
اَوَّلَ
|
اَوَاءِلُ
|
اَوَاوِلُ
|
Yang awal, pertama
|
سَيِّدٍ
|
سَيَءِدَ
|
سَيَاوِدُ
|
Pemimpin, ketua
|
نَيْفٍ
|
نَيَاءِفُ
|
نَيَا
وفُ
|
Anugerah
|
e)
Kaidah 5
Apabila ada waw yang berharakat dhummah dan berada sesudah
huruf yang sukun atau sesudah huruf yang dibaca dhummah pula, maka waw boleh
diganti hamzah dan boleh pula ditetapkan (tidak diganti hamzah ). Tetapi yang
diganti lebih bagus daripada yang tidak.
Contoh:
Mufrad
|
Jamak dengan
Diganti hamzah
|
Tetap
|
Arti
|
دار
|
ادور
|
ادور
|
Rumah
|
حال
|
حوول
|
حوول
|
Yang menghalang-halangi
|
f)
Kaidah 6
Setiap kata yang telah kumpul padanya huruf waw yang di
depan,
maka
waw yang pertama wajib diganti hamzah sepanjang waw yang kedua tadi tidak
gantian (berasal) dari alifnya مُفَا
عَلَةٌ
Sama juga waw yang
pertama itu sebagai huruf mad seperti
pada nomor 1, atau tidak seperti contoh nomor 2 di bawah ini:
Contoh:
Lafal
|
Arti
|
Asal
|
Keterangan
|
الا
ولىَ
|
Yang pertama
|
الو
ول
|
Muanas dari الاولَى
|
الاُول
|
Beberapa yang pertama
|
الوُول
|
Jamak dari الاولَى
|
Kaidah 7
Apabila fa’nya fi’il yang mengikuti wazan اِفْتَعَلَ itu berupa waw atau ya’, maka harus
diganti ta’ dan kemudian diidghamkan (masukkan) ke dalam ta’-nya.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إتّصلَ
|
إوقَصل
|
Berkelanjutan, telah sampai
|
إتّسر
|
إيْتَسَرَ
|
Menjadi mudah
|
إتّقى
|
إوتقى
|
Menjadi oarng yang bertakwa kepada
Sesuatu Allah
|
Yang demikian tadi dengan syarat bahwa ya’ tersebut tidak
berasal (gantian) dari hamzah. Kalau ya’ berasal dari hamzah, maka tidak boleh
diganti ta’
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إيْتمر
|
إءتَمَرَ
|
Mengikuti perintah / bermusyawarah
|
Namun ada juga yang diganti ta’, tetapi
sedikit. Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Asalnya asal
|
Arti
|
إتَّزَرَ
|
إيْتَزَرَ
|
إءتَزَرَ
|
Menggenakan kain penutup badan
|
Yang termasuk ini adalah hadist yang
berbunyi:
إذَا كاَنَ (اى
الثوب)قَصِيْرً لفَلْيَتَّزِرْبِهِ
Artinya: “apabila pakaian itu pendek,
maka pakailah dia sebagai tutup badan”.
g)
Kaidah 8
Apabila fa’ fi’il-nya fi’il yang mengikuti wazan إفْتَغَلَ itu berupa tsa’ maka ta’-nya wajib
diganti tsa’ kemudian diidghamkan.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إثَّاَرَ
|
إيْثَاَرَ
|
Menunutut balas
|
Apabila fa’nya berupa dal, dzal, atau
za’, maka huruf ta’-nya wajib diganti dal.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إدَّعى
|
إدْتَعَى
|
Mengaku
|
إذْدَمكَرَ
|
إذْتَكَرَ
|
Mengigat
|
إزْدَهَى
|
إزْتَهَى
|
Menjadi sombomg
|
Apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’,
atau dzha’, maka ta’-nya wajib diganti tha’
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إصْطَفَعَ
|
إصْذَفَى
|
Memilih
|
إضْطَجَعَ
|
إضْتَجَعَ
|
Tidur miring
|
إطَّرَدَ
|
إطْنَزَدَ
|
Berlaku secara umum/Sampai
|
Boleh diidghamkan sesudah huruf dal dan
tha’ tersebut diganti dengan huruf yang sejenis dengan huruf sebelumnya
sehingga lafal tersebut menjadi:
إذَّكَرَ
، إزَّهَى ، إصَّفَى ، إضجَعَ ، إظَّلَمَ
h)
Kaidah 9
Fi’il yang fa’ fi’il-nya berupa : tsa’, dzal, dal, za’, shad,
dhad, tha’, atau dzha’ dari fi’il yang mengikuti wazan تَفَاعَلَ
تَفَعَّلَ تَفَعْلَلَ
itu sekiranya huruf ta’ pada wazan itu kumpul dengan fa’
kalimat tersebut diatas, maka padanya boleh dilakukan adanya penggantian huruf
ta’ dengan huruf yang bisa sesuai (sejenis) dengan huruf sesudahnya, kemudian
huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke dalam huruf sesudahnya. Sesudah
demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya berupa huruf yang sukun,
maka wajib mendatangkan hamzah washal.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إثَّقَلَ
|
تَثَاقَلَ
|
Menjadi berat
|
إدَّثَرَ
|
تَدَثَّرَ
|
Melompati
|
إذَّكَرَ
|
تَزَكَّرَ
|
Mengingat – ngingat
|
i)
Kaidah 10
Apabila ada huruf ta’, yang mati sebelum huruf dal, maka
huruf ta’ wajib diganti dal dan kemudian diidghamkan ke dalam huruf dal
sesudahnya.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Jamak dari
|
Arti
|
عِدَّنِ
|
عِيْدَنِ
|
عَتود
|
Anak kambing laki-laki
|
j)
Kaidah 11
Apabila ada huruf nun mati yang berada sebelum huruf mim atau
ba’, maka huruf nun itu harus diganti mim,
contohnya:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
إمَّحَى
|
إنَمَحَى
|
Terhapus
|
سُمْبَلَ
|
سُنْبَلَ
|
Satu Tangkai
|
Hanya saja lafal yang kedua ini
digantinya huruf nun dengan mim itu hanya dalam ucapanya saja sedang dalam
tulisanya masih ditulis nun
k) Kaidah 12
Huruf waw diganti mim sesudah huruf ha’ yang ada padanya
dibuang.
Contoh:
Lafal
|
Asal
|
Arti
|
Jamanya
|
فَمِ
|
فوه
|
Mulut
|
افواهٍ
|
Dan pada saat lafadz tersebut dimudhafkan, maka huruf mim
boleh dikembalikan berupa huruf aslinya yaitu wawu, dan boleh huruf
mim sebagai pengganti waw tadi ditetapkan.
Contoh:
Lafal
|
Arti
|
Keterangan
|
هَذَا
فُوْكَ
|
Ini mulutmu
|
Mim dikembalikan berupa wawu
|
هَذَا
فَمُكَ
|
inimulutmu
|
Mim sebagai pengganti waw ditetapkan
|
C. KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan yang ada di atas sesuai dengan keterangan yang ada, menjelaskan
tentang pengertian, pembagian serta macam-macamnya yang dibahas sesuai dengan
permasalahan dalam rumusan, ibdal alif wad an ya dan kaidahnya dalam ilmu rasm
dan imla, ibdal yang memiliki pengertian membuang suatu huruf dan
menempatkan huruf lain di tempatnya. Al-Ibdal itu sama seperti i’lal. Hanya
saja dalam i’lal yang menjadi sasaran adalah huruf illat (huruf berpenyakit),
artinya huruf illat yang satu mengganti tempatnya huruf illat yang lain.
Sedangkan dalam Ibdal yang menjadi objeknya adalah huruf illat maupun huruf
shahih. Artinya menempatkan huruf shahih di tempat huruf shahih yang lain.
Dalam hal ini semuanya berada
dalam kaidahnya ilmu rasm dan imla’ yang merupakan ilmu menggambar ataupun
melukis yang resmi dan memiliki aturan dalam artian menggambar, melukis ataupun melulis mushaf AL-Quran yang
dilakukan secara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk
huruf yang digunakannya, dan bisa menjadi sebuah seni menulis yang mempunyai
kaidah/aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan terdahulu ada
yang memngkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang bertujuan untuk
menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan ada yang
bertujuan untuk menjelaskan asal kata.
Dalam penjelasan di atas
bahwa alif wa dan ya memilki kaidah-kaidah baik dejelaskan dalam kaidah nya
ibdal dan disertai penjelasan tambahan dalam I’lal kaidahnya membuang huruf wawu
dan ya’ serta kaidah ilmu rasm dan imla yang menjelaskan tentang membuang huruf
alif, wawu dan ya, yang disertai keterangan penjelasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurochman, H.
(n.d.). BAHASA ARAB: KEISTIMEWAAN, URGENSI DAN HUKUM MEMPELAJARINYA.
1–15.
Asy, H., Arab, P. B., Pesantren, I., & Abdul, K. H. (2016). Keistimewaan
Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al- Qur ’ an. 1(01), 21–28.
Dr. Ibnu Rawandhy N. Hula, M.A, . (2018). Nahwu dan shorof perspektif
pembelajar bahasa kedua. 103–112.
Khallaf, A. W. (n.d.). Abdull Wahab Khallaf, Ilmu ushul al-Fiqh, (Cet.
I Mesir:Maktabah al-Da’wa al-Islamiyah, 1968), h.21 Ibid. h 34.
Rahmi, N. (2016). Pengembangan Materi Qawa’id Imla’ sebagai Penunjang Mata
Kuliah Kitabah I ( Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN
Metro ).
An-Nabighoh: Jurnal Pendidkandan Pembelajaran Bahasa Arab
IAIN Metro Lampung, 20(01), 111–128.
https://doi.org/https://doi.org/10.32332/an-nabighoh.v20i01
Syifa, A., Wahyu, K., & Malang, U. N. (2018). EKUIVALENSI ANTARA ILMU
MORFOLOGI DAN ILMU SHARF. KAJIAN TETNANG BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA ARAB,
468–478.
THOHAROH, A. (2018). MUSHAF AL-QUR’AN STANDAR USMANI INDONESIA DAN
MUSHAF MADINAH (Kajian atas Ilmu Rasm) BAB II. 31–90.
[1]Dr. Ibnu Rawandhy N. Huda, M.A., Qawaid
Al-Imla wa Al-Khat (Sulan Amai Gorontalo, Jl. Sultan Amai No.1Kel. Pone,
Kec. Limboto Barat Kab. Gorontalo), Cet. I, hlm. 71.
[2] Az-Zumar ; 53
[3]
Al-Isra : 11
[4] Ibid, hlm
91-98
[6] Ibid, 71-83
Komentar
Posting Komentar